Senin, 16 Mei 2016

LANDASAN TEORI PENGARUH CELEBRITY ENDORSER TERHADAP MINAT BELI


         Bintang Iklan ( Celebrity Endorser)


Selebriti biasanya digunakan untuk menarik perhatian khalayak dan berperan penting dalam meningkatkan kesadaran produk. Penggunaan selebriti dalam mendukung iklan suatu produk, membuat pemasar harus rela membayar tinggi selebriti yang banyak disukai oleh masyarakat. Penggunaan selebriti sendiri biasanya menimbulkan kesan bahwa konsumen yang selektif dalam memilih dan meningkatkan status dengan memiliki apa yang digunakan oleh selebriti. Endorser dipilih karena dapat lebih akrab dengan konsumen karena mereka merasa memiliki kesamaan konsep diri yang aktual (actual self concept) , nilai - nilai yang dianut, kepribadian, gaya hidup (life style), karakter demografis, dan sebagainya.
Endorser adalah pendukung iklan atau juga yang dikenal sebagai bintang iklan yang mendukung produk yang diiklankan. Endorser dibagi menjadi dua jenis yaitu Typical Person Endorser, adalah memanfaatkan beberapa orang yang bukan dari kalangan selebritis untuk menyampaikan pesan mengenai suatu produk dan Celebrity Endorser adalah orang yang telah terkenal yang dapat mempengaruhi orang lain karena prestasinya (Terence A. Shimp,2003). Kedua jenis endorser diatas memilih karakteristik dan atribut yang sama hanya saja dibedakan dalam penggunaan orang yang berada didalamnya sebagai pendukung, apakah orang yang digunakan sebagai endorser tokoh terkenal atau tidak. Dalam penelitian ini, pembahasannya hanya difokuskan pada penyampaian pesan menggunakan orang – orang terkenal ( Celebrity Endorser ) saja.
Dalam penggunaanya kaum selebritis diasumsikan lebih kredibel daripada non-selebriti, baik dari segi penampilan fisik dan karakter non-fisik selebriti membuat sebuah iklan lebih menarik dan disukai oleh konsumen. Kepopuleran, citra, dan performa dari selebritis itu sendiri dapat lebih menarik perhatian target market untuk menyaksikan iklan yang dapat mempengaruhi presepsi target audien untuk membuat keputusan dalam melakukan pembelian (Mc Cracken,2006). Atribut dasar yang berpengaruh pada afektifitas pendukung ialah daya tarik. Daya tarik bukan hanya berarti daya tarik fisik tetapi meliputi sejumlah karakter yang dapat dilihat khalayak dalam diri pendukung seperti kecerdasan, sifat – sifat kepribadian, gaya hidup, pstur tubuh, dan lain sebagainya. Beberapa karakteristik bintang iklan atau celebrity endorser antara lain (Shimp, 2003) :
a.         Keahlian (Expertise) mengacu pada pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang dimiliki oleh seorang pendukung yang berhubungan dengan topic iklannya.
b.         Kepercayaan (Trustworthiness) mengacu pada kejujuran, integritas dan dapat dipercayai khalayak sebagai seorang sumber.
c.         Daya tarik (Attractiveness) bukan hanya daya tarik fisik melainkan sejumlah karakteristik yang dapat dilihat khalayak dalam diri pendukung; sifat – sifat kepribadian, gaya hidup, keatletisan tubuh dan lain sebagainya

Periklanan merupakan salah satu bentuk promosi yang paling dikenal, karena daya jangkaunya yang luas. Iklan yang disenangi oleh konsumen terlihat menciptakan sikap merek yang positif dan keinginan untuk membeli yang lebih ketimbang iklan yang mereka tidak sukai (Peter & Olson, 2009). Penggunaan narasumber sebagai figur penarik perhatian dalam iklan merupakan salah satu cara kreatif untuk menyampaikan pesan (Keller, 2012). Pesan yang disampaikan oleh narasumber yang menarik akan lebih mudah dan menarik perhatian konsumen.
Selebriti biasanya digunakan untuk menarik khalayak dan meningkatakan awareness suatu produk. Pemasar mengharapkan presepsi konsumen terhadap produk tersebut akan berubah. Penggunaan selebriti menimbulkan kesan bahwa konsumen selektif dalam memilih dan meningkatkan status dengan memiliki apa yang digunakan oleh selebriti tersebut. Pemasang iklan harus sangat berhati-hati dalam melakukan pemilihan endorser (Belch dan Belch,2001, dalam Kharis,2012). Masing-masing faktor yang memiliki mekanisme yang berbeda di dalamnya dapat mempengaruhi sikap konsumen , yaitu:
a.         Source Credibility, menggambarkan presepsi konsumen terhadap keahlian, pengetahuan dan pengalaman yang relevaan yang dimiliki oleh seorang endorser mengenai produk yang diiklankan serta kepercayaan konsumen terhadap endorser untuk memberikan informasi yang tidak biasa dan obyektif.
b.         Source Atractiveness, endorser dengan penampilan fisik yang baik atau karakter non fisik yang menarik dapat menunjang iklan dan dapat menimbulkan minat audience untuk menyimak iklan.
c.         Source Power, adalah kharisma yang dipancarkan oleh narasumber sehingga dapat mempengaruhi, pemikiran, sikap atau tingkah laku konsumen karena pernyataan atau pesan endorser tersebut.

Tugas utama para endorser ini adalah untuk menciptakan hubungan yang baik antara endorser dengan produk yang diiklankan sehingga timbul sikap yang positif dalam diri konsumen, sehingga iklan dapat menciptakan citra yang baik pula di mata konsumen. Iklan merupakan elemen yang penting dan saling berpengaruh dalam menanamkan brand awarness kepada konsumen, seiring dengan ciri fisik dan kualitas produk yang mengikuti suatu brand tertentu (Temporal & Lee,2010;).
Konsumen saat ini sering memandang suatu merek atau brand sebagai salah satu hal yang sangat penting dalam melakukan keputusan pembelian, brand merupakan suatu nilai tambah bagi suatu produk. Asosiasi yang positif antara selebriti dengan produk di dalam iklan dapat mempengaruhi minat konsumen pada produk secara efektif. Perusahaan pembuat iklan biasanya dapat menciptakan hubungan antara endorser dengan produknya, sehingga citra yang baik dari endorser dapat mempengaruhi secara positif produk yang diiklankan. Selebritis memiliki kharisma yang dapat mempengaruhi konsumen karena status mereka sebagai role model. Penggunaan selebriti yang cocok dan tepat sehingga citra yang baik dari selebriti dapat membentuk citra yang baik pula bagi merek produk (Byrne, Whitehead, dan Breen,2010) .


         Minat Beli (Purchase Intention)


Purchase Intention merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian (Assael,2008). Minat beli sebagai perilaku transaksi konsumen yang cenderung menunjukkan setelah mengevaluasi produk, dan reaksi konsumen diadopsi untuk produk untuk mengukur kemungkinan pembelian konsumen (Schiffman dan Kanuk (2000) dalam Wang (2012). Purchase Intention didefinisikan sebagai kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat konsumen melakukan pembelian (Mehta,2008). Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa minat beli konsumen adalah suatu keinginan konsumen untuk membeli suatu barang setelah melakukan pengamatan tentang barang tersebut.
Minat beli konsumen atau purchase intention juga dapat di definisikan sebagai sikap konsumen terhadap merek yang dihadapkan pada aspek kognitif dan afektif produk tersebut, minat beli kosumen cenderung pada aspek kognitif sikap yang posotif menghasilkan purchase imtention yang positif pula (Belch and Belch, 2001 dalam Ward, 2006)
Minat beli merupakan kecenderungan dari masing-masing konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan prilaku pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian terhadap produk (Karim, 2009). Dapat dikatakan bahwa minat beli merupakan sesuatu yang berhubungan dengan rencana-rencana konsumen untuk membeli produk tertentu serta berapa banyak unit produk yang dibutuhkan konsumen pada periode tertentu (Karim, 2009) selain itu juga minat beli merupakan suatu pernyataan mental dari konsumen yang merefleksikan rencana pembelian produk dengan merek tertentu. Tumbuhnya minat beli seseorang diakibatkan oleh unsur-unsur yang terdiri dari tiga tahapan (Bearman, 2008)  :
a.         Rangsangan, merupakan suatu syarat yang ditunjukan untuk mendorong terjadinya sesuatu tindakan atau menyebabkan seseorang untuk melakukan suatu tindakan
b.         Kesadaran merupakan sesuatu yang dapat memasuki pikiran seseorang dan biasanya dipengaruhi oleh produk dan jasa itu sendiri.
c.         Pencarian informasi, yaitu informasi intern yang bersumber dari data pribadi konsumen itu sendiri dalam memilih suatu produk ataupun jasa yang dapat memberikan kepuasan kepada dirinya, Informasi ekstrn yang diperoleh dari luar konsumen yaitu, misalnya melalui iklan ataupun sumber sosial (teman,keluarga,dan, kolega), hal ini dapat memastikan sifat yang khas dari pemilihan yang ada, yaitu konsumen membandingkan beberapa produk sejenis yang mampu memuaskannya. 

Kamis, 21 April 2016

11 MANFAAT JUS MANGGA

Siapa sih yang tidak kenal dengan buah mangga? Buah yang dianggap sebagai salah satu buah yang nikmat dan enak di ini banyak ditemukan di negara Indonesia, karena pohon mangga merupakan tanaman yang dapat tumbuh subur pada daerah beriklim tropis. Karena merupakan jenis buah musiman yang hanya ada dan berbuah pada saat tertentu saja, mangga menjadi buah yang dirindukan kehadirannya oleh para penggemarnya. Selain dapat dikonsumsi secara langsung, buah mangga juga dapat diolah menjadi sejumlah hidangan yang nikmat seperti jus mangga, puding mangga, salad buah, smoothie, campuran rujak buah dan hasil olahan lainnya. Dengan demikian, penggemar buah mangga tidak akan merasa bosan ketika mengkonsumsinya.

Namun, hasil olahan mangga yang biasa dikonsumsi yaitu jus mangga segar. Pasalnya, mengkonsumsi jus mangga merupakan cara yang praktis dan cepat bagi orang yang tidak mempunyai banyak waktu untuk mengkonsumsinya secara langsung. Dengan mengkonsumsi buah mangga dalam olahan jus, tubuh akan lebih cepat menyerap kandungan nutrisi di dalamnya. Dikarenakan, tubuh tak perlu bekerja keras untuk menyerap nutrisi dalam bentuk cairan.

Sama seperti buah jeruk, mangga juga terkenal akan kandungan vitamin C yang dimilikinya. Tak hanya vitamin C, mangga juga mempunyai kandungan nutrisi lainnya seperti vitamin A, vitamin B kompleks, vitamin E, kalium, zat besi, serat, karbohidrat, antioksidan, asam folat dan masih banyak kandungan nutrisi lainnya. Sebelumnya, telah dijelaskan bahwa semua nutrisi yang terdapat di dalam buah mangga akan mudah terserap oleh tubuh jika dikonsumsi dalam bentuk cairan, yaitu dalam olahan jus mangga segar.
Sebagai informasi pelengkap, pada artikel ini juga akan diulas informasi mengenai manfaat jus mangga. Sesuai dengan apa yang dikutip dari situs manfaatbuahalami.com, adapun manfaat jus mangga yang perlu diketahui adalah sebagai berikut :

11 Manfaat Jus Mangga

  1. Mengatasi Penyakit Kanker
    Sama seperti buah-buahan lainnya, mangga juga merupakan buah yang mempunyai kandungan antioksidan tinggi. Tak hanya kandungan antioksidan, semua senyawa yang terdapat di dalamnya juga ramah dengan usus organ-organ tubuh serta dapat mengatasi penyakit kanker, seperti kanker darah, kanker payudara, kanker prostat dan kanker usus besar.
  2. Menjaga Performa Kardio Tubuh
    Mengkonsumsi jus mangga secara rutin berkhasiat untuk menjaga performa kardio tubuh, sehingga tubuh menjadi lebih sehat dan dapat membantu proses penyerapan nutrisi dengan lebih baik.
  3. Menstabilkan Kadar Gula pada Tubuh
    Kandungan serat pangan dan gula alami yang terdapat di dalam jus mangga sangat aman untuk dikonsumsi penderita penyakit diabetes.
  4. Mencegah dan Mengatasi Anemia
    Di dalam jus mangga terdapat kandungan zat besi yang cukup banyak. Dengan mengkonsumsi jus mangga secara rutin dapat mencegah dan mengatasi penyakit anemia karena kandungan zat besi di dalamnya berfungsi untuk memproduksi sel-sel darah merah.
  5. Melancarkan Sistem Pencernaan
    Kandungan serat pangan yang terdapat di dalamnya mempunyai kemampuan untuk melancarkan sistem pencernaan serta dapat menyehatkan organ-organ pencernaan, sehingga tubuh terbebas dari masalah gangguan pencernaan seperti sembelit, wasir dan susah buang air besar.
  6. Menjaga Kesehatan Mata
    Jus mangga memiliki kandungan vitamin A yang terbukti baik untuk menjaga kesehatan mata, sehingga mata akan menjadi segar, penglihatan menjadi tajam dan terhindar dari gangguan penyakit mata.
  7. Menjaga Kesehatan Kulit
    Kandungan vitamin C dan vitamin E yang terdapat di dalam jus mangga mempunyai kemampuan untuk menjaga kesehatan kulit untuk kulit yang lebih sehat, halus, lembab, cerah dan kencang. [1]
  8. Menurunkan Kadar Kolesterol Jahat
  9. Semua kandungan nutrisi dan senyawa yang ada di dalam jus mangga berfungsi untuk menurunkan kadar kolesterol jahat di dalam darah sehingga terhindar dari resiko terkena hipertensi, penyakit jantung dan stroke.
  10. Menambah Energi
    Apabila merasa lemas dan lelah saat beraktivitas sebaiknya konsumsilah jus mangga karena di dalamnya terdapat kandungan karbohidrat kompleks yang berguna untuk menambah energi yang diperlukan oleh tubuh saat beraktivitas.
  11. Menyehatkan Otak dan Tubuh
    Manfaat jus mangga lainnya adalah dapat membuat tubuh menjadi lebih sehat serta kandungan asam folat di dalamnya mempunyai kemampuan untuk menyehatkan otak dan dapat meningkatkan kinerja otak.
Untuk mendapatkan semua manfaat dari jus mangga ini, sangat dianjurkan untuk mengkonsumsinya tanpa gula tambahan. Kandungan gula alami yang terdapat di dalamnya sudah dapat membuat jus ini terasa manis.

Tips Mengatasi Jerawat Membandel Secara Alami, Cepat Dan Efektif

Bagi anda yang menderita jerawat yang membandel berikut ini cara menghilangkan jerawat membandel yang bisa anda coba :

#1 Menggunakan Es Batu

Es batu berperan untuk meningkatkan sirkulasi darah pada area sekitar jerawat sekaligus membantu mengecilkan pori-pori pada kulit, membunuh bakteri penyebab jerawat, menghilangkan kotoran pada kulit dan menghilangkan minyak berlebih yang menumpuh pada kulit.

Cara Mengatasi Jerawat Dengan Es Batu
  • Siapkan es batu secukupnya
  • Bungkus menggunakan kain yang bersih
  • Tempelkan pada area wajah yang berjerawat secara merata
  • Tahan selama beberapa menit dan lepaskan ketika sudah tak bisa menahan rasa dinginnya
  • Ulangi lagi terus proses tersebut selama berkali-kali sekitar 10-20 kali
  • Lakukan cara ini dengan rutin hingga jerawat benar-benar sembuh

#2 Menggunakan Madu

Madu memang mmeiliki banyak khasiat dan manfaat bagi kesehatan tubuh yang tak bisa diragukan lagi. Madu juga mengandung antibiotik yang sangat tinggi. Madu dapat mencegah infeksi menyebar yang berakibat meradangnya jerawat.

Cara Menghilangkan Jerawat Menggunakan Madu
  • Siapkan madu alami (bukan madu produksi pabrik)
  • Oleskan pada jerawat menggunakan kapas
  • Diamkan sekitar 25-35 menit
  • Bersihkan wajah menggunakan air bersih sesudahnya
  • Lakukan rutin hingga mendapatkan hasil yang maksimal

#3 Menggunakan Buah Lemon

Salah satu buah yang mengandung Vitamin C yang sangat tinggi ialah lemon. Lemon sangat baik jika digunakan untuk mengobati jerawat, lemon dapat mengecilkan jerawat dengan cepat. Tetapi yang perlu diingat ialah pergunakan lemon yang masih segar dan cara ini mungkin tidak cocok untuk kulit yang sensitif.

Cara Menyembuhkan Jerawat Menggunakan Lemon
  • Sediakan 1-2 buah lemon segar
  • Peras lemon dan taruh airnya pada wadah
  • Basuhkan air lemon pada wajah yang berjerawat menggunakan kapas
  • Lakukan ini secara rutin saat malam menjelang tidur

#4 Menggunakan Bawang Putih

Bawang puti yang biasa digunakan sebagai bumbu dapur ini merupakan antijamur, antiseptik, antioksidan dan antivirus yang sangat bermanfaat sekali untuk wajah berjerawat. Bawang putih juga mengandung sulfur yang dapat mempercepat proses penyembuhan jerawat.

Cara Menghilangkan Jerawat Menggunakan Bawang Putih
  • Ambil bawang putih dan potong 1 siung bawang putih menjadi 2 bagian
  • Gosok-gosokkan bawang putih yang telah dipotong ke jerawat dan biarkan selama 5-10 menit
  • Cucilah wajah menggunakan air bersih
  • Lakukan ini secara rutin hingga mendapatkan hasil yang maksimal

#5 Menggunakan Buah Tomat

Tomat merupakan buah yang juga kaya dengan kandungan Vitamin A dan Vitamin C. Kandungan vitamin yang tinggi tersebut membuat buah tomat sangat baik untuk dijadikan obat alami untuk menghilangkan jerawat.

Cara Mengobati Jerawat Menggunakan Buah Tomat
  • Sediakan 1 buah tomat yang matang (kemerahan)
  • Potong buah tomat menjadi irisan tipis-tipis
  • Tutup area jerawat dengan irisan tomat tersebut
  • Diamkan sekitar 10-15 menit
  • Lakukan dengan rutin

#6 Menggunakan Buah Jeruk Nipis

Jeruk nipis umumnya dipakai oleh ibu rumah tangga untuk keperluam memasak dan mencuci piring-piring kotor. Selain itu jeruk nipis juga banyak sekali dijadikan sebagai obat karena banyak mengandung Vitamin C. Jeruk nipis bisa dijadikan obat untuk menghilangkan jerawat yang cukup efektif.

Cara Menghilangkan Jerawat Menggunakan Jeruk Nipis
  • Sediakan 1 buah jeruk nipis
  • Peras airnya dan ambil sekitar 1-2 sendok makan
  • Campur dengan madu 1-2 sendok makan
  • Oleskan pada jerawat menggunakan kapas
  • Biarkan selama 10-20 menit
  • Bilas dengan air hangat hingga bersih
  • Lakukan dengan rutin hingga jerawat sembuh


Itulah beberapa cara yang bisa anda coba untuk menghilangkan jerawat pada wajah anda dengan efektif dan cepat. Mengobati saja tidak cukup berikut beberapa hal yang dapat mencegah terjadinya jerawat pada wajah anda :
  1. Hindari memakai kosmetik yang berlebih dan berbahaya bagi kulit
  2. Jangan menyentuh wajah yang berjerawat
  3. Jangan memencet jerawat anda
  4. Bersihkan wajah dengan cuci muka minimal 2X sehari
  5. Seringlah Berolahraga
  6. Perbanyak meminum air putih
  7. Hindarkan pikiran dari stress

Demikianlah ulasan singkat kami seputar cara menghilangkan jerawat membandel secara alami dan efektif pada area wajah anda. Semoga dengan cara ini wajah anda bisa kembali berseri dan bebas dari jerawat. Memang dengan cara tersebut tidak akan menyembuhkan jerawat dengan instan namun butuh proses. Akan tetapi jika dilakukan dnegan rutin akan membuahkan hasil yang maksimal dan tentu saja tanpa efek samping yang membahayakan kulit wajah anda.

source :http://bebasjerawatan.blogspot.com/2015/08/cara-menghilangkan-jerawat-membandel.html#more

Jumat, 18 Maret 2016

Bahasa Indonesia 2 : Analisis Artikel




Paragraf 1 : Deduktif, karena  ide pokok pada kalimat tersebut terdapat diawal  kalimat dengan pola pengembangan yang digunakan yaitu dari umum – khusus.

Paragraf 2 : Deduktif , karena dari paragraph tersebut disebutkan wilayah Barat Kota Tangerang kemudian disebutkan secara khusus kecamatan mana saja.

Paragraf 3 : Induktif, karena ide pokok ada di awal paragraph berupa opini yang secara khusus disebutkat dari wali kota. Khusus – umum.

Paragraf 4 : Deduktif, karena pola pengembangan paragraph umum - khusus.

Paragraf 5 : Induktif, karena pada awal paragraf di kutip secara khusus opini dari pejabat bersangkutan dan pola pengembangan paragraph  khusus - umum.

Paragraf 6 : Induktif karena ide pokok paragraph ada di awal yang disebutkan secara khusus daerah mananya kemudian dijelaskan secara umum. Pola paragraph tersebut khusus – umum.

Paragraf 7 : Induktif, karena pola pengembangan paragraph bersifat khusus – umum.

Paragraf 8 : Induktif, karena pola pengembangan paragraph tersebut bersifat khusus - umum.

Paragraf 9 : Deduktif, karena pola pengembangan paragraph tersebut bersifat khusus – umum.

Cara menguji data yang digunakan pada artiket diatas adalah dengan melakukan observasi yaitu pengamatan secara langsung sehingga penulis artikel bias menggambarkan kondisi yang terjadi saat itu. Kemuadian didukung dengan otoritas yaitu menanyakn langsung pada ahlinya, dalam artiket tersebut adalah pejabat yang bersangkutan ; Walikota Tangerang, H. Arif R. Wismansyah dan Kabid Perencanaan Sarana dan Prasarana Bappeda Kota Tangerang, Ruta Ireng Wicaksono.

Kesimpulan dari artikel berita diatas adalah Implikasi yaitu disajikan berdasarkan fakta – fakta yang ada dilapangan.

Rabu, 30 Desember 2015

Pengaruh Kondisi Ekonomi Terhadap Perilaku Konsumen


Pengaruh Kondisi Ekonomi Terhadap Perilaku Konsumen 

(Pengaruh Literasi Ekonomi, Kelompok Teman Sebaya dan Kontrol Diri terhadap Perilaku Pembelian Impulsif untuk Produk Fashion pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta)

BAB I
PENDAHULUAN




     1.1  LATAR BELAKANG

Globalisasi yang terjadi pada bidang perekonomian disebut dengan globalisasi perekonomian. Globalisasi perekonomian diartikan sebagai suatu proses kegiatan ekonomi dan perdagangan, dimana negara-negara di seluruh dunia menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas teritorial negara. Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan hilang dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik.
Pengaruh tersebut terlihat dari semakin pesatnya perkembangan pembangunan khususnya di bidang ekonomi Banyaknya pembangunan mall di kota-kota besar menunjukkan tingginya budaya konsumtif di kalangan masyarakat. Para investor cenderung memilih membangun mall di daerah perkotaan, dengan anggapan bahwa masyarakat perkotaan berada di kelas ekonomi menengah ke atas. Dalam perkembangannya mall bertransformasi tidak hanya sekedar tempat berbelanja namun juga sebagai tempat hiburan. Langkah tersebut biasanya dilakukan oleh pihak mal untuk menarik perhatian orang mengunjungi mall dan tanpa disadari perkembangan ini justru menyebabkan pergeseran perilaku konsumsi masyarakat menjadi lebih konsumtif. Masyarakat perkotaan memiliki total pengeluaran rata-rata sebesar Rp4,4 juta per bulan, sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan dinilai cenderung konsumtif (Herdaru Purnomo, 2013).
Salah satu bentuk perilaku konsumen yang tidak direncanakan adalah terjadinya pembelian impulsif. Pembelian impulsif (impulsive buying) atau biasa disebut juga unplanned purchase merupakan perilaku seseorang dimana orang tersebut tidak merencanakan sesuatu dalam berbelanja. Konsumen melakukan pembelian impulsif tidak berpikir untuk membeli suatu produk atau merek tertentu. Mereka langsung melakukan pembelian karena ketertarikan pada merek atau produk saat itu juga. Menurut Rook dan Fisher (1995: 306) pembelian impulsif diartikan sebagai kecenderungan konsumen untuk membeli secara spontan, reflek, tiba-tiba, dan otomatis. Dari definisi tersebut terlihat bahwa impulsive buying merupakan sesuatu yang alamiah dan merupakan reaksi yang cepat.
Pembelian impulsif merupakan fenomena psikoekonomik yang banyak melanda kehidupan masyarakat. Pada proses membeli impulsif, calon pembeli langsung mengarah kepada suatu produk tertentu dan kemudian melakukan pembelian secara cepat. Perilaku pembelian impulsif timbul secara tidak sadar pada saat individu melakukan kegiatan yang berkaitan dengan uang dan gaya hidup. Sebagai contoh, ketika seseorang dengan teman sebayanya berjalan-jalan di pusat perbelanjaan atau mall yang tujuannya hanya sekedar jalan-jalan atau mengisi waktu luang kemudian melihat produk dengan model terbaru atau melihat adanya potongan harga (discount) pada produk tertentu, akhirnya memutuskan membeli meskipun ketika berangkat tidak ada rencana untuk membeli. Berdasarkan fenomena dan pengamatan
sehari-hari yang peneliti lakukan banyak ditemukan remaja termasuk mahasiswa, relatif sering membeli produk fashion dan aksesorisnya. Mereka tak jarang membeli produk fashion dan barang-barang yang sama dengan temannya atau bahkan membanding-bandingkan barang kepemilikannya dengan barang temannya untuk melihat barang siapa yang lebih trendy.
Masalah remaja merupakan bahan kajian yang potensial untuk digali dan diteliti. Hal ini karena jumlah remaja yang berusia antara 10 sampai 24 tahun di Indonesia sangat besar. Menurut data Badan Pusat Statistik (2014) jumlah remaja yang berusia 10-24 tahun di Indonesia secara umum mengalami peningkatan yaitu 64 juta jiwa pada tahun 2008 meningkat menjadi 65,7 juta jiwa pada tahun 2014. Jumlah yang demikian besar merupakan peluang yang sangat potensial bagi produsen atau pemasar untuk memasarkan hasil produksinya. Menurut Abu Ahmadi dan Munawar Sholeh (2005: 45-47) mahasiswa termasuk dalam kategori masa remaja akhir yaitu antara usia 18 sampai 25 tahun. Masa ini ditandai oleh persiapan akhir memasuk peran-peran orang dewasa. Remaja pada masa ini memiliki keinginan untuk diterima dalam kelompok teman sebaya dan orang dewasa. Pada tahap ini perkembangan intelektual remaja telah berada pada taraf operasional formal, sehingga kemampuan nalarnya tinggi dan lebih matang dalam hal mengambil keputusan.
Tingkat konsumsi mahasiswa Yogyakarta dapat dikategorikan dalam kategori menengah sampai tinggi. Menurut M. Syaifullah (2012) mahasiswa di Yogyakarta menghabiskan Rp23,1 miliar per bulan untuk biaya rekreasi dan hiburan. Jumlah ini mengalahkan biaya belanja buku yang mencapai Rp21 miliar per bulan. Total seluruh biaya, para mahasiswa menghabiskan Rp423,8 miliar per bulan atau rata-rata mahasiswa menghabiskan Rp1,8 juta per bulan. Adapun berdasarkan domisili asal, mahasiswa asal Sulawesi paling tinggi pengeluarannya, yaitu mencapai rata-rata Rp2,6 juta per bulan. Paling rendah mahasiswa asal Pulau Jawa, yang hanya mencapai rata-rata Rp1,6 juta per bulan. Hal ini merupakan potret pembiayaan mahasiswa di Yogyakarta secara umum (Tempo.co, 2012).
Pada umumnya mahasiswa telah diberi kepercayaan dan tanggung jawab dalam mengelola keuangannya sendiri. Dengan demikian mereka merasa beba menggunakan uang yang dimiliki tanpa pengawasan langsung dari orang tua, hal tersebut menyebabkan mahasiswa seringkali kurang rasional dalam membelanjakan uangnya. Para remaja atau mahasiswa lebih sering menggunakan emosi sehingga mengarah pada pembelian secara spontanitas. Pembelian impulsif seringkali terjadi pada produk-produk yang dirasa cukup menarik bagi kelompok konsumen ini, salah satunya adalah produk fashion yang terdiri dari pakaian, celana, sepatu, sandal, jam tangan, kerudung, topi dan tas yang berfungsi sebagai sarana dalam meningkatkan
self image dan mood. Melalui produk fashion tersebut remaja dapat terlihat
lebih modis dan menawan.
Dari beberapa pernyataan mahasiswa di atas, peneliti menduga bahwa hal tersebut berkaitan dengan perilaku pembelian impulsif yang terjadi di kalangan mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Berdasarkan ulasan latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik untuk mengetahui kecenderungan pembelian impulsif pada mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta. Selanjutnya penelitian ini dituangkan dalam bentuk skripsi berjudul “Pengaruh Literasi Ekonomi, Kelompok Teman Sebaya dan Kontrol Diri terhadap Perilaku Pembelian Impulsif untuk Produk Fashion pada Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta”.

     1.2  RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
  1. Bagaimana pengaruh literasi ekonomi terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY? 
  2. Bagaimana pengaruh literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri secara bersama-sama terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY?

     1.3  TUJUAN PENELITIAN
Tujuan penelitian ini mengacu pada permasalahan yang telah disebutkan di atas yaitu untuk mengetahui pengaruh literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY.

1.4  MANFAAT PENELITIAN
M   Manfaat Teoritis 
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan dan perkembangan ekonomi sekaligus menjadi bahan acuan bagi penelitian selanjutnya.
2.     Manfaat Praktis
a.       Bagi mahasiswa Fakultas Ekonomi, hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam meningkatkan efisiensi dan efektifitas perilaku konsumsi mahasiswa, sehingga tidak mengarah pada perilaku konsumtif serta mengurangi perilaku pembelian impulsif.
b.      Bagi peneliti, penelitian ini merupakan sarana untuk berlatih dalam pengembangan ilmu pengetahuan melalui kegiatan penelitian serta menambah wawasan penulis agar berpikir secara kritis dan sistematis dalam menghadapi permasalahan yang terjadi kaitannya dengan ekonomi.
BAB II
PEMBAHASAN


2.1 KERANGKA TEORI

Masalah Ekonomi
Masalah dalam ekonomi adalah kelangkaan sumber daya relatif terhadap pemenuhan kebutuhan, sementara jumlah kebutuhan manusia tidak terbatas. Dengan demikian, untuk mendapatkan kepuasan dengan alat pemuas kebutuhan yang terbatas maka manusia harus melakukan pemilihan kebutuhan dengan cara mengalokasikan sumber daya yang ada secara efisien. Ilmu ekonomi membantu manusia untuk mencapai kemakmuran yang maksimal dari sumber-sumber atau alat-alat yang tersedia.
Menurut Pandey & Bhattacharya (2012: 3) melek ekonomi adalah kemampuan untuk menggunakan konsep ekonomi untuk membuat keputusan tentang penghasilan, tabungan, pengeluaran dan mengalokasikan uang. Hal ini diperjelas oleh pendapat dari Organization for Economic Literacy (OEL) yang menegaskan bahwa melek ekonomi tidak hanya meliputi pemahaman konsep dasar ekonomi dan fakta ekonomi, tetapi juga tentang kemampuan berpikir kritis yang mendukung cara berpikir ekonomi yang benar. Dengan kata lain, melek ekonomi melibatkan pengetahuan dan penerapan teori-teori ekonomi yang mendasar dalam mengambil keputusan tentang sumber daya yang terbatas.
Menurut Mathews (1999: 2) literasi ekonomi merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kemampuan individu agar dapat mengenali atau menggunakan konsep ekonomi dan cara berpikir ekonomi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. Sedangkan menurut Jappelli (2009) pada prinsipnya literasi ekonomi merupakan alat untuk mencapai tujuan, hanya saja pada kenyataannya tidak semua orang memiliki literasi ekonomi yang tinggi sehingga mengkerucutkan peluang mencapai kesejahteraan. Salah satu indikatornya adalah menjadi orang yang cerdas dalam mengelola sumber daya ekonominya guna mencapai kesejahteraan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa literasi ekonomi merupakan kemampuan untuk menggunakan konsep dasar ekonomi dan cara berpikir kritis dalam pembuatan keputusan ekonomi. Literasi ekonomi dapat membuat seseorang menjadi cerdas dalam mengelola sumber daya ekonomi untuk mencapai kesejahteraan dengan cara mengaplikasikan konsep ekonomi tersebut. Selain itu, literasi ekonomi menjadi sangat penting untuk membuka pengetahuan tentang biaya atau manfaat suatu barang dalam aktivitas ekonomi.

Hubungan Literasi Ekonomi dengan Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen ditentukan oleh tingkat pengetahuan masyarakat tentang ekonomi, sehingga literasi ekonomi menjadi hal penting. Literasi dalam perekonomian suatu negara menjadi penting, karena dengan literasi ekonomi berarti menunjukkan masyarakat suatu negara merupakan konsumen atau produsen yang cerdas, sehingga akan mendorong terhadap pertumbuhan ekonomi. Masyarakat yang cerdas akan mampu memilih produk yang dapat mendorong perekonomian negaranya, bukan memperkaya negara lain sebagaimana yang menjadi tujuan dari globalisasi. Terkait dengan perilaku konsumsi remaja atau mahasiswa, pendidikan memegang peranan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia berkualitas.
Pendidikan merupakan suatu proses yang mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan dalam perilaku. Dapat dikatakan bahwa orang dianggap belajar jika menunjukkan perubahan-perubahan tingkah laku dalam hidupnya. Dengan pengetahuan yang dimiliki, manusia dapat bertindak atau berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang didapatnya dari proses pembelajara termasuk dalam mengambil keputusan. Keputusan ekonomi yang cerdas terlihat dari kemampuan mencari sumber daya yang dimiliki untuk menciptakan benefit. Hal ini diperjelas oleh Jappelli (2009: 9) bahwa literasi ekonomi menjadi semakin penting untuk membuat keputusan rumah tangga, yaitu bagaimana berinvestasi yang tepat, berapa banyak meminjam yang tepat di pasar uang dan bagaimana memahami konsekuensi atas stabilitas keseluruhan ekonomi.

Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pembelian Impulsif
Menurut Loudon dan Bitta (dalam Fikrah Wathani, 2009: 15) menjelaskan bahwa karakteristik produk, karakteristik pemasaran, dan karakteristik konsumen memiliki pengaruh terhadap munculnya perilaku pembelian impulsif. Karakteristik tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1) Karakteristik produk yang mempengaruhi perilaku pembelian impulsif yaitu:
a)      Memiliki harga yang rendah
b)      Adanya sedikit kebutuhan terhadap produk tersebut
c)      Siklus kehidupan produknya pendek
d)     Ukurannya kecil dan ringan
e)      Mudah disimpan
2) Karakteristik pemasaran, hal-hal yang mempengaruhi perilaku pembelian impulsif antara lain:
a)      Distribusi massa pada self-service outlet terhadap pemasangan iklan besar-besaran dan material yang akan didiskon.
b)      Posisi barang yang dipamerkan dan lokasi toko yang menonjol turut mempengaruhi pembelian impulsif.
3) Karakteristik konsumen yang mempengaruhi perilaku pembelian impulsif, yaitu:
1.      Kepribadian konsumen.
2.      Demografis, karakteristik demografis terdiri dari gender, usia, status perkawinan, pekerjaan dan pendidikan.
3.      Karakteristik-karakteristik sosio-ekonomi yang dihubungkan dengan tingkat pembelian impulsif.
Menurut Fatchur (2009: 251) faktor situasional dapat mempengaruhi keputusan pembelian konsumen, termasuk pembelian impulsif. Faktor situasional tersebut sangat komplek, sehingga dikelompokkan sebagai berikut:
1.      Lingkungan fisik (physical surrounding)
2.      Lingkungan sosial (social surrounding)
3.      Perspektif waktu (temporal perspectives)
4.      Sifat tujuan berbelanja (task definition)
5.      Suasana hati pada saat berbelanja (antecedent states)
Berdasarkan faktor-faktor yang telah dijelaskan di atas, dapat dikatakan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap perilaku pembelian impulsif konsumen diantaranya adalah kepribadian konsumen, pendidikan, dan lingkungan sosial. Faktor tersebut sesuai dengan variabel bebas dalam penelitian ini yang dianggap dapat berpengaruh terhadap keputusan pembelian dan perilaku pembelian impulsif yaitu literasi ekonomi atau pemahaman terhadap ekonomi,kontrol diri dan kelompok teman sebaya.

Pengaruh Literasi Ekonomi, Kelompok Teman Sebaya dan Kontrol Diri  Secara Bersama-Sama terhadap Perilaku Pembelian Impulsif

Apabila seseorang memiliki literasi ekonomi yang baik atau pemahaman terhadap ekonomi yang cukup baik, maka orang tersebut akan berpikir cerdas dalam pemenuhan kebutuhannya sehari-hari. Seperti halnya mahasiswa yang duduk dibangku kuliah dan mempelajari berbagai konsep ekonomi, mahasiswa tersebut dituntut untuk dapat mengaplikasikan konsep ekonomi dalam kegiatan sehari-hari. Dengan demikian, mahasiswa akan berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan kegiatan konsumsi dan mempertimbangkan biaya atau manfaat suatu barang serta mampu mengalokasikan sumber daya yang terbatas dengan benar. Sehingga perilaku pembelian impulsif dapat dihindari.
Kelompok teman sebaya dikatakan berpengaruh terhadap perilaku konsumen atau pengambilan keputusan pembelian yang mengarah pada perilaku pembelian impulsif melalui interaksi dalam kelompok sebaya tersebut. Pengaruh kelompok teman sebaya membuat remaja cenderung lebih konsumtif dan tidak rasional dalam berperilaku konsumsi, karena pada dasarnya remaja mudah terpengaruh dan ikut-ikutan teman misalnya saja dalam hal berpakaian atau membeli produk fashion terlihat seperti ada persaingan di dalamnya. Hal tersebut diduga mengarah pada perilaku pembelian impulsif. Kontrol diri juga dapat mempengaruhi perilaku pembelian seseorang khususnya remaja atau mahasiswa. Jika remaja memiliki kontrol diri yang baik, maka akan bertindak secara rasional dan penuh pertimbangan dalam berkonsumsi sehingga tidak mengarah pada perilaku konsumtif. Tetapi remaja cenderung memiliki kontrol diri yang rendah, sehingga banyak remaja yang bertindak tanpa pertimbanganpertimbangan terlebih dan hanya menggunakan emosi sesaat dalam mengambil keputusan. Hal tersebut dapat mendorong remaja berperilaku konsumtif dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari dan pada akhirnya mengarah pada perilaku pembelian impulsif.
            Dari uraian di atas, dapat dikatakan bahwa literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri dapat mempengaruhi perilaku konsumsi remaja berupa kecenderungan melakukan pembelian impulsif. Pembelian impulsif biasanya terjadi pada produk-produk yang terjangkau dan dianggap dapat menambah penampilan seseorang menjadi lebih menarik, salah satunya adalah produk fashion. Remaja atau mahasiswa cenderung impulsif pada produk fashion, karena produk fashion merupakan elemen penting bagi mahasiswa untuk menunjang penampilannya di kampus. Jenis produk fashion tersebut bermacammacam seperti pakaian (baju dan celana), tas, sepatu, sandal, kerudung, jam tangan, kaca mata/softlens, topi, dan aksesoris (kalung-kalung, gelang dan cincin).


BAB III
HASIL PENELITIAN




3.1 Pengaruh Literasi Ekonomi terhadap Perilaku Pembelian Impulsif
Dari hasil penelitian yang menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh literasi ekonomi terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Hal tersebut ditunjukkan oleh besarnya nilai thitung sebesar -0,600 dengan nilai signifikansi t sebesar 0,549 dan koefisien regresi (b1) sebesar -0,014. Karena nilai signifikansi t > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh literasi ekonomi terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY.
Berdasarkan hasil deskripsi data penelitian dapat diketahui bahwa tingkat literasi ekonomi mahasiswa Fakultas Ekonomi angkatan 2014 termasuk dalam kategori sedang. Meskipun kecenderungan literasi ekonomi menunjukkan kecenderungan sedang, namun hasil penelitian menunjukkan bahwa literasi ekonomi tidak berpengaruh terhadap perilaku pembelian impulsif. Dapat disimpulkan bahwa baik mahasiswa yang memiliki tingkat literasi ekonomi tinggi maupun rendah tidak memiliki perbedaan dalam perilaku pembelian impulsif.
Menurut penelitian Rook (1987: 193-195) pembelian impulsif memiliki beberapa karakteristik yaitu: spontanitas; kekuatan, kompulsi dan intensitas; kegairahan dan stimulasi; dan ketidakpedulian akan akibat. Meskipun pada dasarnya literasi ekonomi bertujuan untuk membuka pengetahuan tentang biaya/manfaat suatu barang dalam aktivitas ekonomi, dengan kata lain untuk menghindarkan seseorang dari perilaku konsumtif. Namun jika dilihat dari karakteristik pembelian impulsif yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan mengapa literasi ekonomi tidak berpengaruh terhadap perilaku pembelian impulsif. Pembelian impulsif terjadi secara spontan, tidak terencana, cepat, tidak terkendali dan tidak mempertimbangkan akibat yang akan timbul selanjutnya. Oleh karena itu, ketika dalam situasi pembelian terutama pembelian impulsif, mahasiswa tidak sempat atau tidak ada waktu untuk mengingat dan memperhitungkan bagian-bagian dari konsep ekonomi yang telah dipelajarinya. Sehingga tingkat literasi ekonomi yang dimiliki tidak berpengaruh terhadap perilaku pembelian impulsif.

3.2  Pengaruh Literasi Ekonomi, Kelompok Teman Sebaya dan Kontrol Diri secara Bersama-Sama terhadap Perilaku Pembelian Impulsif
Literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri secara bersama-sama mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Hal ini ditunjukkan dengan hasil pengujian dengan uji F yang diperoleh nilai Fhitung sebesar 53,564 dengan nilai signifikansi F sebesar 0,000. Karena nilai sig. F < 0,05 maka hal ini berarti bahwa literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri secara bersama-sama berpengaruh terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Sehingga dapat membuktikan hipotesis keempat yang telah dikemukakan sebelumnya.
Hasil pengujian regresi ganda menunjukkan bahwa koefisien determinasi (R2) sebesar 0,462 atau 46,2%. Jadi dapat dikatakan bahwa 46,2% perilaku pembelian impulsif dipengaruhi oleh literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri. Sedangkan sisanya sebesar 53,8% dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Variabel literasi ekonomi dalam memberikan sumbangan relatif sebesar 0,7%, variabel kelompok teman sebaya sebesar 39,5% dan variabel kontrol diri sebesar 59,8%. Sedangkan sumbangan efektif dari masing-masing variabel adalah 0,32% untuk variabel literasi ekonomi, 18,25% untuk variabel kelompok teman sebaya dan 27,63% untuk variabel kontrol diri.


BAB IV
PENUTUP



4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil analisis yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1.      Tidak terdapat pengaruh literasi ekonomi terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa baik mahasiswa yang memiliki tingkat literasi ekonomi tinggi maupun rendah tidak memiliki perbedaan dalam perilaku pembelian impulsif.
2.      Terdapat pengaruh positif dan signifikan kelompok teman sebaya terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Dikarenakan banyaknya waktu yang dihabiskan dan interaksi yang dilakukan bersama teman sebaya membuat remaja semakin terpengaruh oleh kelompok teman sebaya itu. Kondisi tersebut sedikit banyak dapat mempengaruhi perilaku pembelian mereka dan kemudian mengarah pada perilaku pembelian impulsif.
3.      Terdapat pengaruh negatif dan signifikan kontrol diri terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Hal ini membuktikan, semakin tinggi kontrol diri mahasiswa, maka semakin rendah perilaku pembelian impulsif. Sebaliknya semakin rendah kontrol diri, maka semakin tinggi perilaku pembelian impulsif. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa mahasiswa Fakultas Ekonomi memiliki kontrol diri yang baik dan mampu mengontro perilakunya sehingga tidak mengarah pada perilaku pembelian impulsif.
4.      Terdapat pengaruh yang signifikan literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri terhadap perilaku pembelian impulsif untuk produk fashion pada mahasiswa Fakultas Ekonomi UNY. Hal ini ditunjukkan dengan nilai Fhitung sebesar 53,564 dengan nilai signifikansi F sebesar 0,000. Karena nilai sig. F < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri terhadap perilaku pembelian impulsif. Koefisien determinasi (R2) sebesar 0,462, berarti bahwa 46,2% perilaku pembelian impulsif mahasiswa dapat dijelaskan oleh variabel literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri. Sedangkan sisanya 53,8% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Variabel literasi ekonomi, kelompok teman sebaya dan kontrol diri masing-masing memberikan sumbangan efektif sebesar 0,32% untuk variabel literasi ekonomi, 18,25% untuk variabel kelompok teman sebaya dan 27,63% untuk variabel kontrol diri.

4.2 SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut:
1.      Meskipun dalam penelitian ini literasi ekonomi tidak berpengaruh, mahasiswa diharapkan lebih mendalami literasi ekonomi atau pemahaman konsep-konsep dasar ekonomi, sehingga tidak hanya menguasai secara materi yang nantinya akan cepat lupa, namun dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan dari literasi ekonomi tersebut agar mahasiswa dapat berpikir kritis, rasional, dan hati-hati dalam menghadapi masalah ekonomi, termasuk dalam kegiatan konsumsi sehingga dapat terhindar dari perilaku pembelian impulsif.
2.      Dalam bergaul dengan teman sebaya hendaknya mahasiswa memperhatikan batas-batas perilaku yang baik dan yang tidak baik untuk dilakukan. Jangan sampai pergaulan dengan teman sebaya mempengaruhi kehidupan yang mengarah pada perilaku hedonisme dan konsumtif.
3.      Mempertahankan dan meningkatkan aspek psikologi yaitu kemampuan mengontrol perilaku agar tidak mudah terpengaruh oleh dampak negatif dari lingkungan sekitar termasuk dalam perilaku konsumsi.
4.      Bagi peneliti selanjutnya yang hendak meneliti maupun mengembangkan penelitian serupa, penulis menyarankan agar mempertimbangkan variasi dari sampel yang akan diteliti dan tentunya dengan variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.


SUMBER
http://eprints.uny.ac.id/23808/1/SKRIPSI_NURAENI_11404241013.pdf